AL QUR’AN : AN NASIKH WAL MANSUKH DALAM AL QUR’AN

Al- Quran adalah mukjizat bagi umat islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur’an sendiri dalam proses penurunannya mengalami banyak proses  yang mana dalam penurunannya  itu berangsur-angsur dan bermacam-macam Nabi menerimanya.  Kita mengenal turunnya Al-Qur’an sebagai tanggal 17 Ramadhan. Maka setiap bulan 17 Ramadhan kita mengenal yang namanya Nuzulul Qur’an yaitu hari turunnya Al-Quran.

Mengetahui latar belakang turunnya ayat-ayat Al-Quran, akan menimbulkan perspektif dan menambah khazanah perbendaharaan pengetahuan baru. Dengan mengetahui hal tersebut kita akan lebih memahami arti dan makna ayat-ayat itu dan akan menghilangkan  keraguan-keraguan dalam menafsirkannya. Dalam penurunan Al-Quran terjadi di kota yaitu Madinah dan Mekkah. Surat yang turun di Madinah di sebut Madaniyah.

Pengertian Nasakh dan Mansukh

An Naskh menurut bahasa Arab mengarah kepada dua arti: Pertama memiliki arti “Izaalatu syain wa i’daamuhu” yaitu menghilangkan sesuatu dan meniadakannya atas dasar Allah SWT: ِِ Qs. Al Hajj: 52 ) Lafadz yansakhu dalam ayat diatas bermakna menghilangkan atau meniadakan bisikan bisikan syaithan dan penyesatannya. Kedua memiliki arti “Naqlu al syay’i wa tahwiluhu ma’a baqaaihi fi nafsihi” yaitu menyalin dan memindahkan sesuatu dengan tetap menjaga perkara yang disalin tersebut. Makna ini diambil dari penuturan ayat al Qur’an: ِ(Qs. Al إ -Jaatsiyah: 29) Yaitu bermakna memindahkan amal-amal kalian ke dalam shuhuf (lembaran-lembaran).   Adapun al Zarkasyi berpendapat, An Naskh bisa diartikan ke dalam empat makna, yatu bermakna al Izalah (menghilangkan/menghapus) sesuai ayat Qs. Al Hajj: 52, at Tabdiil (mengganti) seperti dalam firman Allah SWT; “wa idza baddalnaa aayatan makaana aayatin” Qs. An Nahl: 101, bisa berarti at Tahwil (merubah), dan juga berarti an Naql(memindah).

Para ulama mutaqaddimin (abad I hingga abad III H) memperluas arti Nasikh sehingga mencakup beberapa hal sebagai berikut:

  • Pembatalan hukum yang ditetapkan terlebih dahulu terjadi oleh hukum yang ditetapkan kemudian.
  • Pengecualian hukum yang bersifat oleh hukum yang bersifat khusus yang datang kemudian.
  • Penjelasan yang datang kemudian terhadap hukum yang bersifat samar.
  • Penetapan syarat terhadap hukum terdahulu yang belum bersyarat.

Hal yang demikian luas dipersempit oleh ulama’ yang datang kemudian (mutaakhkhirin).  Menurut mereka nasakh terbatas pada ketentuan hukum yang datang kemudian guna membatalkan atau mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan hukum yang terdahulu sehingga ketentuan hukum yang berlaku adalah yang ditetapkan terakhir.

Pengertian mansukh menurut bahasa berarti sesuatu yang dihapus/dihilangkan/dipindah ataupun disalin/dinukil. Sedangkan menurut istilah para ulama’, mansukh ialah hukum syara’ yang diambil dari dalil syara’ yang pertama, yang belum diubah dengan dibatalkan dan diganti dengan hukum dari dalil syara’ baru yang datang kemudian.

Tegasnya, dalam mansukh itu adalah berupa ketentuan hukum syara’ pertama yang telah diubah dan diganti dengan yang baru, karena adanya situasi dan kondisi yang menghendaki perubahan dan penggantian hukum.

Syarat Syarat Nasakh

Dari pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa terjadinya naskh harus memenuhi beberapa syarat:

  1. Hukum yang di-naskh harus bersifat hukum syar’i
  2. Dalil yang berfungsi menghapus hukum berupa khitab syar’i (wahyu ilahi) yang muncul lebih akhir dari pada khitab yang di-naskh hukumnya.
  3. Khitab yang dihapus hukumnya tidak dibatasi oleh waktu tertentu. Apabila dibatasi waktu maka hukum tersebut terhapus dengan habis masa waktunya dan tidak dianggap sebagai naskh.

Sebagian ulama ada yang memperluas syarat-syarat terjadinya naskh menjadi beberapa      poin yaitu:

  1. Hukum yang terkandung pada nasikh bertentangan dengan hukum pada mansukh.
  2. Yang mansukh harus lebih awal dari Nasikh.
  3. Hukum yang di-nasakh mesti hal-hal yang menyangkut dengan perintah, larangan, dan hukuman.
  4. Hukum yang di-nasakh tidak terbatas waktu tertentu, mesti berlaku sepanjang waktu.
  5. Hukum yang terkandung dalam mansukh telah ditetapkan sebelum munculnya nasikh.
  6. Status nash nasikh mesti sama dengan nash mansukh. Maka nash yang zhanni tidak bisa menasakh-kan yang qath’i. Tentu tidak sah pula dalil yang besifat ahad untuk me-nasakh-kan dalil yang mutawatir. Dari situ diketahui bahwa hanya terjadi pada Amr (perintah) dan Nahyi (larangan), baik secara shorih (jelas) dalam perintah ataupun dengan lafadz khabar (berita) yang mengandung makna perintah dan larangandengan syarat tidak berhubungan dengan urusan

Pembagian nasikh

Umumnya para ulama membagi nasakh menjadi empat macam.

  1. Naskh Alquranbi al Qur’an. Para ulama yang mengakui adanya naskh, telah sepakat adanya naskh Alqurandengan al Qur’an, dan itu-pun telah terjadi menurut mereka. Salah satu contohnya adalah ayat ‘iddah satu tahun di-nasakh-kan dengan ayat ‘iddahempat bulan sepuluh hari. Yaitu pada Q.S. al Baqarah ayat 240:

وَٱلَّذِينَ يُتَوَفَّوۡنَ مِنكُمۡ وَيَذَرُونَ أَزۡوَٰجٗا وَصِيَّةٗ لِّأَزۡوَٰجِهِم مَّتَٰعًا إِلَى ٱلۡحَوۡلِ غَيۡرَ إِخۡرَاجٖۚ فَإِنۡ خَرَجۡنَفَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ فِي مَا فَعَلۡنَ فِيٓ أَنفُسِهِنَّ مِن مَّعۡرُوفٖۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٞ

 

Yang artinya:

“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Ayat ini kemudian di nasakh oleh surah yang sama pada ayat 234:

 

وَٱلَّذِينَ يُتَوَفَّوۡنَ مِنكُمۡ وَيَذَرُونَ أَزۡوَٰجٗا يَتَرَبَّصۡنَ بِأَنفُسِهِنَّ أَرۡبَعَةَ أَشۡهُرٖ وَعَشۡرٗاۖ فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ فِيمَا فَعَلۡنَ فِيٓ أَنفُسِهِنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ

 

Yang artinya :

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri merekamenurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”.

 

  1. Kedua, Naskh Alquranbi as Sunnah. Naskh yang jenis ini terbagi dua yaitu:
  2. Nasakh Al-Qur’an dengan Hadits Ahad:

Jumhur ulama’ berpendapat, Al-Qur’an tidak boleh dinasakh oleh hadits ahad, sebab Qur’an adalah mutawatir dan menunjukkan yakin, sedang hadits ahad dzanni, bersifat dugaan, di samping tidak sah pula menghapuskan sesuatu yang ma’lum (jelas diketahui) dengan yang madznun (diduga).

  1. Nasakh Al-Qur’an dengan Hadits Mutawatir:

Naskh demikian dibolehkan oleh Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Iman Ahmad dalam satu riwayat, sebab masing-masing keduanya adalah wahyu. Allah berfirman dalam surat an-Najm ayat 3-4:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ۞ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ  

Yang artinya:

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Sedangkan asy-Syafi’i, Ahli Zahir dan Ahmad dalam riwayatnya yang lain menolak naskh seperti ini, berdasarkan firman Allah surat al-Baqarah ayat 106:

۞مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٖ مِّنۡهَآ أَوۡ مِثۡلِهَآۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ

Yang artinya:

“Apa saja ayat yang Kami nasakhkan atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya.”

  1. Ketiga, Naskh as Sunnah bi al Qur’an. Jumhur ulama membolehkan naskh seperti ini. Salah satu contohnya adalah menghadap ke Baitul Maqdis yang ditetapkan oleh Sunnah, kemudian ketetapan ini di-nasakh-kan oleh Alqurandalam firman Allah swt: (Qs. Al Baqarah: 44)

فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ.

 Artinya :”Maka hadapkanlah wajahmu menuju al Masjid al Haram”.

Contoh lainnya yaitu kewajiban puasa hari’asyura yang ditetapkan oleh sunnah, kemudian di-naskh oleh al Qur’an yang Artinya: “ Karena itu, barang siapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. (Qs. Al Baqarah: 185)

  1. Keempat , Naskh as Sunnah bi as Sunnah. Dalam bagian ini naskh terbagi pada empat macam, yaitu:
  • Naskh sunnah mutawatir dengan sunnah mutawatir,
  • Naskhsunnah ahad dengan sunnah ahad,
  • Naskhsunnah ahad dengan sunnah mutawatir,dan
  • Naskh sunnah mutawatir dengan sunnah ahad.

Tiga macam naskh yang pertama diatas dihukumi boleh. Adapun macam yang keempat para ulama berbeda pendapat seperti dalam permasalahan naskh Alqurandengan sunnah ahad, dimana Jumhur ulama tidak memperbolehkannya.

Adapun menasakh ijma’ dengan ijma’ dan qiyas dengan qiyas atau menasakh dengan keduanya, maka pendapat yang shohih tidak membolehkannya.

Contoh nasakh sunnah dengan sunnah ialah mengenai larangan berziarah kubur pada waktu permulaan Islam. Kemudian Rasul dengan hadisnya yang lain membolehkan ziarah kubur setelah masyarakat mengetahui hakikat ziarah kubur.

 كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ أَلاَ فَزُوْرُوْهَا

Yang artinya :

Dulu aku (nabi) melarang kalian untuk ziarah kubur, sekarang berziarah kuburlah kamu.” (H.R. Muslim)

 Ruang Lingkup Nasakh

Nasakh hanya terjadi pada perintah dan larangan, baik yang diungkapkan dengan tegas dan jelas maupun yang diungkapkan dengan kalimat khabar (berita) yang bermakna amar (perintah) atau nahy (larangan), jika hal tersebut tidak berhubungan dengan persoalan akidah, yang berfokus kepada Zat Allah, sifat-sifat-Nya, para rasul-Nya dari hari kemudian, serta tidak berkaitan pula dengan etika dan akhlak atau dengan pokok-pokok ibadah dan mu’amalah. Hal ini karena semua syari’at ilahi tidak lepas dari pokok-pokok tersebut.

Naskh tidak terjadi dalam berita atau kabar yang jelas-jelas tidak bermakna talab (tuntutan ; perintah atau larangan), seperti janji (al-wa’d) dan ancaman (al-wa’id).

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *