Al Quran : FAWATIH AS-SUWAR (PEMBUKA SURAH)

Studi atas Al Quran telah banyak dilakukan oleh para ulama dan sarjana tempo dulu, termasuk para sahabat di zaman Rasulullah saw. Hal itu tidak lepas dari disiplin dan keahlian yang dimiliki oleh mereka masing-masing. Ada yang mencoba mengelaborasi dan melakukan eksplorasi lewat perspektif keimanan historis, bahasa dan sastra, pengkodifikasian, kemukjizatan penafsiran serta telaah kepada huruf-hurufnya.

Kondisi semacam  itu bukan  hanya merupakan artikulasi tanggung jawab seorang muslim untuk memahami bahasa-bahasa agamanya, tetapi sudah berkembang kepada nuansa lain yang menitikberatkan kepada studi yang bersifat ilmiah yang memberikan kontribusi dalam perkembangan pemikiran dalam dunia Islam.

Kalangan  sarjana Barat banyak yang melibatkan diri dalam pengkajian Al Quran, dengan motivasi dan latar belakang kultural maupun intelektual yang berbeda-beda. Al Quran diketahui terdiri dari 114 surat, yang di awali dengan beberapa macam pembukaan (Fawatih al Suwar).

  1. Pengertian Fawatih As-suwar

Istilah Fawatih as-Suwar terdiri dari dua kata yaitu fawatih dan as-suwar. Fawatih merupakan  jamak dari fatihah yang berarti pembuka. Sedangkan as-suwar adalah jamak dari surah, yang berarti surah, dan as-suwar bermakna surah-surah. Dengan demikian, istilah fawatih as-suwar secara harfiah berarti “pembuka surah-surah”. Berdasarkan makna harfiah tersebut, maka secara istilah fawatih as-suwar berarti suatu ilmu yang mengkaji tentang bentuk-bentuk huruf, kata, atau kalimat permulaan surah-surah Al-Qur’an.

Dari segi makna bahasa, fawatih as-suwar berarti pembukaan-pembukaan surah karena posisinya yang mengawali perjalanan  teks-teks setiap surah. Bila sebuah surah dimulai oleh huruf-huruf  hijaiyah, huruf itu biasa dinamakan ahraf muqatta’ah (huruf-huruf yang terpisah) karena posisi huruf tersebut cenderung “menyendiri”, tidak bergabung untuk membentuk sebuah kalimat secara kebahasaan. Namun, segi pembacaannya tidak berbeda dari lafaz yang diucapkan pada huruf hijaiyah.

Fawatih as-suwar adalah  kalimat-kalimat yang dipakai untuk pembukaan surah-surah, ia merupakan bagian dari ayat mutasyabihat. Karena ia bersifat mujmal, mu’awwal, dan musykil. Jadi dapat disimpulkan bahwa fawatih as-suwar adalah pembuka-pembuka surah yang mengawali sebuah surah dalam Al-Qur’an.

  1. Macam-macam bentuk Fawatih As-suwar

Surah-surah Al-Qur’an dimulai dengan berbagai bentuk. Ia dimulai dengan bentuk yang bervariasi, ada yang sama ada pula yang berbeda. As Suyuti, dalam al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an  membagi bentuk-bentuk huruf, kata, atau kalimat pembukaan surah-surah al-Qur’an itu kepada sepuluh macam, yaitu sebagai berikut :

  1. Surah-surah yang dimulai dengan pujian (ats-tsanah). Terdapat 14 surah yang di awali dengan pujian, yaitu tahmid, tabaraka, dan tasbih. Yang menggunakan lafaz tahmid terdiri dari lima surat, menggunakan  lafaz tabaraka dua surah  dan yang menggunakan lafaz tasbih berjumlah tujuh surat.
  2. Surah-surah yang dimulai huruf-huruf hija’iyah atau huruf muqaththa’ah (huruf potong) terdapat 29 surah yang dimulai dengan huruf potong tersebut.
  3. Surah yang dimulai dengan panggilan (an-nida) hal ini berjumlah 10 surah, 5 di antaranya panggilan kepada Nabi Muhammad dan 5 lainnya panggilan kepada umat.
  4. Surah yang mulai dengan jumlah khabariyah (kalimat berita). Hal itu berjumlah 23 surah.
  5. Surah yang dimulai dengan qasam (sumpah), yang berjumlah 15 surah.
  6. Surah yang dimulai dengan jumlah syarthiyah, yang berjumlah 7 surat.
  7. Surah yang dimulai dengan kalimat perintah (al-amr), berjumlah 6 surat.
  8. Surah yang dimulai dengan pertanyaan (istifham), berjumlah 6 surat.
  9. Surah yang dimulai dengan do’a, berjumlah 3 surat.
  10. Surah yang dimulai dengan ilat (ta’lil), berjumlah 1 surat.
  11. Hikmah dari Fawatih As-suwar

Banyak sekali manfaat urgensi yang kita dapat dalam mengkaji FawatihAl-Suwar. Adapun. Sebagian dari manfaatnya sebagai berikut:

  1. Sebagai Tanbih (peringatan) dan dapat memberikan perhatian baik bagi nabi, maupun umatnya dan dapat menjadi pedoman bagi kehidupan ini.
  2. Sebagai pengetahuan bagi kita yang senantiasa mengkajinya bahwa dalam Fawatih Al-Suwar banyak sekali hal-hal yang mengandung rahasia-rahasia Allah yang kita tidak dapat mengetahuinya. Sebagai motivasi untuk selalu mencari ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan cara beriman dan beramal shaleh dan menambah keyakinan kita bahwa Al-Qur’an itu adalah benar-benar kalam Allah SWT.
  3. Untuk menghilangkan keraguan terhadap Al-Qur’an terutama bagi kaum muslimin yang masih lemah imannya karena sangat mudah terpengaruh oleh perkataan musuh-musuh islam yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah buatan Muhammad Saw. Dengan mengkaji Fawatih Al-Suwar kita akan merasakan terhadap keindahan bahasa Al-Qur’an itu sendiri bahwa Al-Qur’an itu datang dari Allah SWT.

Kemunculan Al-Qur’an sebagai wahyu dan pedoman umat manusia terutama umat islam menjadikan angin segar terutama di zaman jahiliyyah pada saat itu.Di era modern seperti saat ini, umat islam modern dihauskan akan khazanah keislaman,terutama dari sumber kebenaran muthlaq Al-Qur’an. Kemunculan Ilmu Fawatih as suwar yang merupakan  perkembangan dari ulumul qur’an dapat dijadikan himbauan tersurat dalam al-qur’an yang mengandung banyak makna.Terkadang kita menganalisis surah-surah al-qur’an hanya dari segi judul,dan isi makna dominan,tanpa melihat makna tersirat dari awal dan akhir ayat dalam surah tersebut.

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *