AL QUR’AN : MUHKAM WAL MUTASYABIH

Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang dijadikan sebagai pedoman dan petunjuk  dalam setiap aspek kehidupan umat Islam, tentu harus dipahami secara mendalam. Belajar serta memahami Al-Qur’an merupakan hal terpenting bagi setiap umat Islam.  Pemahaman Al-Qur’an dapat diperoleh dengan mendalami atau menguasai ilmu-ilmu yang tercakup dalam ulumul qur’an.

Pada masa-masa permulaan turunnya, Al-Qur’an lebih banyak dihafal dan dipahami oleh para sahabat Nabi. Sehingga kemudian tidak ada alternatif lain bagi para sahabat kecuali berupaya menulisnya. Apabila tidak dituliskan, maka mutiara yang bernilai demikian luhur dikhawatirkan akan bercampur dengan hal-hal lain yang tidak diperlukan. Sehingga, firman Allah yang mengiringi kehidupan umat Islam dan juga seluruh manusia telah tersedia dalam bentuk tertulis, bahkan berbentuk sebuah kitab. Oleh sebab itu, tidak dapat dihindari jika kemudian berkembang ilmu pengetahuan tentang Al-Qur’an yang tidak lain tujuannya untuk mempermudah dalam memahaminya. Salah satu ilmu pengetahuan tentang Al-Qur’an adalah ilmu muhkan dan mutasyabih.

Pengertian Muhkam dan Mutasyabih

Muhkam berasal dari kata Ihkam, yang berarti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan, pencegahan. Sedangkan secara terminologi, Muhkam berarti ayat-ayat yang jelas maknanya, dan tidak memerlukan keterangan dari ayat-ayat lain.  Sedangkan Mutasyabih berasal dari kata tasyabuh, yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal. Sedangkan secara terminologi Mutasyabih berarti ayat-ayat yang belum jelas maksudnya., dan mempunyai banyak kemungkinan takwilnya, maknanya yang tersembunyi dan memerlukan keterangan tertentu atau hanya Allah yang mengetahuinya.

Ayat-ayat Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil ataupun tidak. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah, seperti saat datangnya hari kiamat, keluarnya dajjal, dan huruf-huruf muqatha’ah. Ibn Abi Hatim mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat harus diimani dan diamalkan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan. Mayoritas ulama ahlu fiqih yang berasal dari pendapat ibnu Abbas mengatakan, lafadz muhkam adalah lafadz yang tidak bisa ditakwilkan melainkan hanya satu arah atau segi saja, karena masih samar.

Dengan demikian muhkam adalah ayat yang terang makna serta lafadznya dan cepat dipahami. Sedangkan mutasyabih, ialah ayat-ayat yang bersifat global yang memerlukan ta’wil dan yang sukar dipahami.

Karakteristik Muhkam dan Mutasyabih

Banyaknya perbedaan pendapat mengenai muhkam dan mutasyabih, menyulitan untuk membuat sebuah kriteria ayat yang termasuk muhkam dan mutasyabih. J.M.S Baljon mengutip pendapat Zamakhsyari yang berpendapat bahwa yang termasuk kriteria ayat-ayat muhkam adalah apabila ayat-ayat tersebut berhubungan dengan hakikat (kenyataan). Sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah yang menuntut penelitian.

Ar-Raghib  al-Ashfihani memberikan kriteria ayat-ayat muhkam dan mutasyabih sebagai berikut :

1). Kriteria Ayat-Ayat Muhkam:

  1. Ayat-ayat yang membatalkan ayat-ayat yang lain.
  2. Ayat-ayat yang menghalalkan atau membatalkan ayat-ayat lain.
  3. Ayat-ayat yang mengandung kewajiban yang harus diimani dan diamalkan.

2). Kriteria Ayat-Ayat Mutasyabih:

  1. Yakni ayat-ayat yang tidak diketahui hakikat maknanya seperti tibanya hari kiamat.
  2. Ayat-ayat yang dapat diketahui maknanya dengan sarana bantu baik dengan hadits atau ayat muhkam.
  3. Ayat yang hanya dapat diketahui oleh orang-orang yang dalam ilmunya, sebagaimana diisyaratkan dalam doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas “Ya Allah, karuniailah ia ilmu yang mendalam mengenai agama dan limpahkanlah pengetahuan tentang ta’wil kepadanya”                                                                                                                                                           Sebab-Sebab Terjadinya Mutasyabih

                 Sebab adanya ayat Mutasyabih adalah karena Allah SWT menjadikan demikian. Allah membedakan antara ayat-ayat yang Muhkam dari yang Mutasyabih, dan menjadikan ayat Muhkam sebagai bandingan dari ayat yang Mutasyabih.

Imam Ar-Raghib Al-Asfihani dalam kitabnya Mufradatil Qur’an menyatakan bahwa sebab adanya kesamaran dalam Al-Quran terdapat 3 hal, yaitu sebagai berikut:

  1. Kesamaran dari aspek lafal.

Kesamaran ini ada dua macam, yaitu sebagai berikut:

  1. Kesamaran dari aspek lafal mufradnya, yang dimaksud dengan kesamaran pada lafal mufrad ini adalah adanya lafal tunggal yang maknanya tidak jelas, baik disebabkan oleh gharib (asing) ataupun musytarak (bermakna ganda).
  2. Kesamaran lafal murakkab disebabkan terlalu ringkas. Contoh kesamaran dalam lafal murakkab terlalu ringkas, terdapat di dalam surah An-Nisa’ : 3

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا۟ فِى ٱلْيَتَٰمَىٰ فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ مَثْنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَ

Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat…”

Ayat di atas sulit diterjemahkan. Karena takut tidak dapat berlaku adil terhadap anak yatim, lalu mengapa disuruh menikahi wanita yang baik-baik, dua, tiga atau empat. Kesukaran itu terjadi karena susunan kalimat ayat tersebut terlalu singkat

  1. Kesamaran dari aspek maknanya

Mutasyabih dari segi maknanya seperti mengenai sifat-sifat Allah SWT, sifat-sifat hari kiamat, bagaimana dan kapan terjadinya. Semua sifat yang demikian tidak dapat digambarkan secara konkret karena kejadiannya belum pernah dialami oleh siapa pun.

  1. Kesamaran dari aspek lafal dan maknanya

Mutasyabih dari aspek lafal dan maknanya ada lima macam, yaitu:

  1. Mutasyabih dari segi kadarnya, seperti lafaz yang umum dan khusus. Contohnya dalam surat At-Taubah : 5

فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ

Artinya: Maka bunuhlah kaum musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka itu”.

Dari kalimat yang harus dibunuh masih samar.

 

  1. Mutasyabih dari segi caranya, seperti perintah wajib dan sunnah. Contohnya dalam surat Thoha ayat 14 :

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

Artinya: “ Dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku (Allah)”.

Dalam ayat ini terdapat kesamaran, dalam hal bagaimana cara shalat agar dapat mengingatkan kepada Allah SWT.

 

Mutasyabih dari segi waktu, seperti batas sampai kapan melaksanaan sesuatu perbuatan. Contohnya dalam surat Ali Imran:102

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah  sebenar-benar taqwa kepada-Nya”.

 

Dalam ayat ini terjadi kesamaran, sampai kapan batas taqwa yang benar-benar itu.

 

  1. Mutasyabih dari segi tempat dan suasana dimana ayat itu diturunkan. Contohnya dalam surat Ali Imran:7

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ

Artinya: “ Dan orang-orang yang mendalam ilmunya

 

  1. Mutasyabih dari segi syarat-syarat sehingga suatu amalan itu tergantung dengan ada atau tidaknya syarat yang dibutuhkan. Misalnya: ibadah shalat, dan nikah tidak dapat dilaksanakan jika tidak cukup syaratnya.Macam-macam ayat Muhkam dan Mutasyabih

Pembagian ayat-ayat mutasyabihat dalam al-qur’an:

  1. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat sampai kepada maksudnya, seperti pengetahuan tentang dzat Allah dan hakikat sifat-sifat-Nya, pengetahuan tentang waktu kiamat dan hal-hal gaib lainnya. Allah berfirman dalam surah al-an’am (6): 59

….. وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri…

  1. Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian, seperti ayat-ayat mutasyabihat yang kesamaranya timbul akibat ringkas, panjang, urutan, dan seumpamanya. Allah berfirman dalam surah An-Nisaa’ (4): 3

…. وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi…

 

Maksud ayat ini tidak jelas, dan ketidak jelasannya karena lafalnya yang ringkas.

 

  1. Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya hanya dapat diketahui oleh para pakar ilmu sains, bukan oleh semua orang apalagi orang awam. Hal ini termasuk urusan-urusan yang hanya diketahui Allah SWT dan orang-orang yang rosikh (mendalam) ilmu pengetahuan.

 

Contoh ayat muhkam:

 

  1. يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّأَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “ hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seorang perempuan dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”. (Al-Hujarat: 13)

 

  1. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

Artinya: “hai manusia, sembahlah tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah: 21)

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “ Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al-Baqarah: 275)

  1. Hikmah ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih

1. Hikmah ayat-ayat muhkam:

a. Menjadi rahmat bagi manusia. Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang sudah jelas arti maksudnya, sangat bearti besar bagi mereka, khususnya yang kemampuan bahasa Arabnya lemah.

b. Memudahkan bagi manusia mengetahui dan menghayati arti dan maksudnya sehingga umat mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-ajarannya.

c. Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya, karena lafal ayat-ayat sudah dapat menjelaskan arti yang dimaksud dengan sendirinya, tidak harus menunggu penafsiran atau penjelasan dari lafal/ ayat/ surah yang lain.

 

  1. Hikmah ayat-ayat Mutasyabih:

a. Memperlihatkan kelemahan akal manusa. Sebagaimana Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah, akal juga dicoba untuk meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih agar seseorang yang berpengetahuan tinggi terhindar dari menyombongkan keilmuannya sehinggaia tunduk kepada naluri kehambaannya.

b. Melalui pengalaman indrawi yang bisa disaksikan, manusia menerima pemahaman abstrak-ilahiah sebagaimana diketahui bahwa pemahaman diperoleh manusia tatkala ia diberi gambaran indrawi terlebih dahulu. Dalam kasus sifat0sifat Allah, Allah memberi gambaran fisik agar mansua dapat lebih mengenal sifat-sifat-Nya. Bersamaan dengan itu, Allah menegaskan bahwa dalam hal kepemilikan anggota badan, diri-Nya tidaklah sama dengan hamba-Nya.

c. Agar dapat mengerti terjemahannya, menghayatinya maksudnya, mau tidak mau umat manusia haris giat mempelajari ayat mutasyabihat dalam al-qur’an sehingga dapat memperdalam isi ajarannya. Hal tersebut berarti menjadikan umat terus termotivasi untuk giat belajar, tekut menalar, dan rajin meneliti.

d. Memperlihatkan kemukjizatan al-qur’an, ketinggian mutu sastra dan balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah buatan manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan Allah SWT.

e. Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam. Sebab, orang-orang yang akan mempelajari ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-qur’an harus mempelajari beberapa disiplin ilmu lain yang terkait dengan berbagai isi ajaran al-qur’an yang bermacam-macam.