AL QUR’AN : QASHASH DI DALAM AL-QURAN

Al-Quran merupakan mukjizat paling besar yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai umat islam hendaknya mampu mengkaji apa isi dan kandungan yang terdapat di dalam Al-Quran agar kita semua mengetahui makna dan hakekat  sebenernya yang tertera di dalamnya.

Kandungan dalam Al-Quran telah banyak menyuguhkan kisah-kisah orang terdahulu dari para Nabi dan Rosul. Al-Quran telah membicarakan kisah-kisah yang menjelaskan hikmah dan manfaat untuk kita, yang memudahkan kita untuk memahaminya dan berinteraksi dengannya.

Kandungan Al-Quran yang menceritakan masa lampau disebut dengan Qashashul Quran. Bahkan jika dibandingkan dengan ayat-ayat tentang hukum atau kisah lebih banyaknya.

Pengertian Qashash Al-Quran

Secara bahasa kata Al-Qashshu berarti mengikuti jejak atau mengungkapkam masa lalu. Al-Qashash adalah bentuk mashdar dari qashsha yaqushshu qashshan, sebagaimana yang diungkapkan dalam Al-Quran.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS Yusuf [12] : 111).

Menurut terminologi qashash untuk menunjukkan bahwa kisah yang disampaikan itu benar dan tidak mengandung kemungkinan salah atau dusta. Sementara cerita-cerita lain yang mengandung salah dan benar biasanya bentuk jamaknya diungkapkan dengan istilah qishash. Dari segi istilah, kisah berita-berita mengenai suatu permasalahan dalam masa-masa yang saling berurutan. Qashash Al-Quran adalah pemberitaan mengenai ihwal umat yang terdahulu dan peristiwa yang telah, sedang, dari akan terjadi.

 

Macam-macam Qashash Al-Quran

  1. Kisah para Nabi terdahulu. Cerita ini mencakup dakwah mereka pada kaumnya, mu’jizat mereka, sikap penentang para Nabi, fase dakwah dan perkembangannya, balasan terhadap orang-orang kafir dan para pendusta, seperti cerita Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, Isa, Muhammad saw.
  2. Kisah Al-Quran yang berkaitan dengan kejadian masa lalu, cerita tentang seseorang yang belum ditetapkan kenabiannya seperti Thalut, Jalut, dua putra Nabi Adam, Ahlul Kahfi, Dzul Qarnain, Qarun, Ashab as-Sabti, Maryam, Ashabul Uhdud, Ashabul Fil, dan lainnya.
  3. Kisah yang berkaitan dengan kejadian yang terjadi pada masa Rasulullah seperti Perang Badar, Uhud, dalam surah Ali Imron, Perang Hunain, Tabuk dalam surah At-Taubah, Perang Al-Ahzab dalam urah Al-Ahzab, Hijrah, Al-Isra’, dan semacamnya.

Manfaat Qashash Al-Quran

Adapun manfaatnya kisah-kisah Al-Quran menurut manna al-Qattan adalah sebagai berikut :

  1. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip ajaran para Rasul. Penjelasan pokok-pokok syariat yang diemban oleh setiap Nabi sebagaimana yang ditegaskan Allah Swt.
  2. Mengokohkan hati Rasulullah dan hati umatnya terhadap agama Allah dan menguatkan kepercayaan orang-orang yang beriman terhadap kemenangan, kebenaran, dan pertolongan-Nya, serta menghancurkan kebatilan dan para pendukungnya.
  3. Membenarkan Ajaran Nabi terdahulu, menghidupkan ajran mereka dan mengabdikan peninggalan mereka.
  4. Menunjukkan kebenaran Muhammad SAW. dalam risalahnya dakwah dengan memberitahukan tentang keadaan orang-orang terdahulu dalam berbagai macam level generasi yang berbeda.
  5. Membongkar kebohongan Ahli Kitab dengan menjelaskan hal-hal yang mereka sembunyikan, dan menentang apa-apa yang terdapat pada kitab mereka setelah mengalami perubahan dan penggantian.
  6. Kisah atau cerita merupakan salah satu metode yang cukup baik dalam berdakwah dan ungkapannya lebih cepat menancap dalam jiwa.
Hikmah Pengulangan Qashash dalam Al-Quran

Al Quran mencakup banyak kisah yang di ulang-ulang, salah satu kisah dapat di sebut dalam al quran dan di paparkan dalam bentuk yang berbeda. Ada yang di ungkapkan dengan bentuk taqdimta’khir,ijaz dan ithnab al quran adalah sebagai berikut :

  1. Menjelaskan segi kebalaghaan al quran pada tingkat yang lebih tinggi. Di antara karakteristik balaghah adalah menampakkan makna satu dengan segala bentuk yang berbeda. Pengulangan cerita di sajikan pada cetakan yang bukan cetakannya. Manusia tidak merasa jenuh atas pengulangan ceritanya, bahkan makna yang di tangkap jiwa akan selalu baru,tak seorang pun dapat meresapi keindahan dan kedalaman maknanya selain dari cerita-cerita al quran.
  2. Meneguhkan sisi kemukjizatan al quran. Ketika suatu makna diungkapkan dalam bentuk yang berbeda maka seseorang akan semakin terkesima dan takjub dengannya. Tidak heran bila orang arab tidak mampu untuk membuat hal yang sama seperti al quran.
  3. Mengundang perhatian yang besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan tanda betapa besarnya perhatian al quran terhadap masalah tersebut. Misalnya kisah nabi nabi musa dan firaun. Kisah ini mengisahkan pergulatan sengit antara kebenaran dan kebatilan.
  4. Penyajian seperti itu menunjukkan perbedaan tujuan yang karenanya kisah itu di ungkapkan. Sebagian dari makna-maknanya di terangkan di suatu tempat, karena itulah yang di perlukan, sedangkan makna-makna lainnya di kemukakan di tempat lain,sesuai dengan keadaan.
Perbedaan Kisah dalam Al Quran dengan lainnya

Sebagai kitab suci, al quran bukanlah kitab sejarah sehingga tidak adil jika al quran di anggap mandul hanya karena kisah-kisah yang ada di dalamnya tidak di paparkan secara gamblang. Akan tetapi berbeda dengan cerita fiksi, kisah-kisah tidak di dasarkan pada khayalan yang jauh dari realitas.

Melalui studi yang mendalam,di antara kisah al quran dapat di telusuri akar sejarahnya. Misal situs-situs sejarah bangsa iran yang di identifikasikan sebagai bangsa ‘ad dalam kisah al quran, al mu’tafikat yang di identifikasikan sebagai kota-kota palin,sodom,gomorah yang merupakan kota-kota nabi luth.

Kemudian berdasarkan penemuan-penemuan modern, mummi ramses II disinyalir sebagai firaun yang di kisahkan dalam al quran. Di samping itu, memang terdapat kisah yang tampaknya sulit di deteksi sisi historisnya. Misal peristiwa isra’ mi’roj dan dan kisah ratu saba’. Karena itu, sering di sinyalir bahwa kisah-kisah dalam al quran itu ada yang historis ada yang ahistoris.

Meskipun demikian, pengetahuan sejarah sangat kabur dan penemuan-penemuan arkeologi sangat sedikit untuk di jadikan bahan penyelidikan menurut kaca mata modern, misalnya mengenai raja-raja israil yang di nyatakan dalam al quran. Karena itu, sejarah pengetahuan lainya tidak lebih merupakan sarana untuk mempermudah usaha untuk memahami al quran. Di samping itu sejarah yang di sampaikan manusia mengandung kemungkinan benar dan salah, karena manusia memiliki subjektivitas sebab ia di pengaruhi oleh keinginan dan hawa nafsunya, atau punya kepentingan politik dan sebagainya. Ambil saja misalnya super semar, sampai saat ini sebagian orang masih ada yang meragukan keautentikannya.

Sedangkan sejarah dari al quran pasti benar karena datangnya dari allah dan tidak ada kepentingan kecuali untuk kemaslahatan manusia. Kisah-kisah yang di sampaikan pasti sesuai dengan kenyataan, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT : “kuasa allah yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Tuhan yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, Dialah yang Maha Tinggi Lagi Maha Besar. (Qs Al Hajj [22]:62).

Dalam ayat lain di sebutkan  : “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka,dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”. (Qs Kahfi [18]: 13) juga sesuai firmanNya : “ kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah musa dan firaun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. (QS Al Qashash [28]: 3)

Memang di akui bahwa al quran tidak menceritakan kejadian dan peristiwa secara kronologis dan tidak memaprkannya secara terperinci. Hal ini di maksudkan sebagai peringatan tentang berlakunya hukum allah dalam kehidupan sosial serta pengaruh baik dan buruknya dalam kehidupan manusia. Sebagian klisah dalam al quran merupakan petikan sejarah yang bukan berarti menyalahi sejarah, karena sebagaimana di jelaskan di atas pengetahuan sejarah sangat kabur dan pertemuan-pertemuan arkeologi sangat sedikit untuk mengungkap kisah-kisah dalam al quran, dalam kerangka pengetahuan modern. Karena itu, kisah-kisah al quran memiliki realitas yang di yakini kebenarannya,termasuk peristiwa yang ada di dalamnya. Ia adalah bagian dari ayat-ayat yang di turunkan dari sisi Yang Maha Tau san Maha Bijaksana. Maka dari manusia mukmin,tidak ada kata kecuali menerima dan mengambil ibrah (pelajaran) darinya.

Pengaruh Kisah Al Quran Terhadap Pendidikan

Tidak dapat di ragukan lagi bahwa cerita yang pasti dan autentik dalam al quran dapat mengetuk para pendengarnya dan dapat menembus jiwa manusia dengan mudah dan serta tidak menjenuhkan para pembacanya. Pelajaran yang di terima dan di sampaikan di sekolah  ancapkali berdampak pada kejenuhan. Para pelajar sering tidak dapat mengikuti dan mendalaminya kecuali dengan penuh kesulitan dan rasa yang membosankan, apalagi pelajaran itu dalam konteks ini metode cerita sangat berguna dan bermanfaat di terapkan. Metode penyajian kisah dalam al quran merupakan metode yang dapat di tiru oleh para guru/pendidik untuk membantu mereka agar sukses dalam mengemban tugas agungnya. Seorang guru dapat menyampaikan pelajaran sembari menyelingi dengan kisah-kisah para nabi, berita tentang orang-orang terdahulu, sunnatullah dalam kehidupan, keadaan umat-umat terdahulu dan lain sebagainya. Dalam menyampaikan kisah-kisah al quran tersebut, seorang pendidik dapat mengungkapkan dengan metode yang sesuai dengan tingkat berpikir para pelajarnya atau sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka.

 

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *