AQIDAH : NIKMAT YANG TERLUPAKAN

Kita semua telah memahami, bahwa nikmat Allah SWT yang diberikan kepada kita itu sangat banyak, luas tiada terbatas. Setiap saat kita selalu dilimpahi dengan nikmat – nikmat-Nya. Begitu banyaknya nikmat tersebut, sampai – sampai kita tidak mampu menghitungnya. Sebaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur an surat Ibrahim ayat 34, “dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya”.

Allah SWT yang mempunyai asma Ar-Razzaq dan Al-Lathif senantiasa memenuhi kebutuhan rizki hamba-hamba-Nya dengan cara yang begitu halus, sampai hamba itu sendiri kadang lupa bahwa anugerah tersebut datangnya dari Allah SWT. Dan tidak jarang manusia tersebut menjadi sombong terhadap rizki yang didapatnya, beranggapan bahwa semua kenikmatan yang diperolehnya adalah hasil usahanya semata, lupa untuk bersyukur kepada Dzat yang telah memberi rizki, kenikmatan tersebut. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari mengingkari (nikmat Allah). Sebagai contoh adalah nikmat kesehatan, yang baru kita rasakan sebagai nikmat ketika kita sedang diuji dengan sakit, saat itu kita mengetahui betapa mahalnya nikmat Allah berupa kesehatan.

  • Nikmat dijadikannya kita sebagai manusia;

Allah SWT tidak mengharapkan apa – apa dari pemberian nikmat-Nya tersebut, Allah SWT hanya memerintahkan kita supaya mensyukurinya. Orang yang bersyukur pun pada hakikatnya melakukannya demi kebaikannya sendiri, karena siapa yang bersyukur maka akan bertambah nikmatnya, dan itu merupakan janji Allah SWT yang termaktub dalam Al-Quran. Setidaknya ada tiga nikmat yang amat besar, yang justru sering dilupakan karena amat lekatnya nikmat tersebut dari diri seseorang,yaitu :

Sadarkah kita bahwa menjadi makhluk yang namanya manusia itu merupakan nikmat yang amat besar? Manusia merupakan sebaik – baik ciptaan-Nya, paling sempurna diantara makhluk-Nya yang lain, makhluk yang diangkat sebagai khalifah-Nya dimuka bumi, sebagaimana firman Allah SWT, “Dan Dialah yang menjadikan  kamu penguasa – penguasa dimuka bumi dan ia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya padamu…..” (Q.S. Al-An’am:165)

Manusia merupakan makhluk jasmaniyah dan ruhaniyah yang tidak pernah habis menjadi bahan kajian. Beratus – ratus buku telah ditulis untuk menulis makhluk yang namanya manusia ini. Namun semuanya belum dapat menyimpulkan tentang kesempurnaan manusia,”maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main – main saja dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami” (Q.S. Al-Mu’minun : 115). Setiap bagian dari manusia merupakan bahan kajian,terdapat ilmu pengetahuan didalamnya dan tanda – tanda kebesaran Allah SWT sampai sampai Nabi Muhammad SAW pernah bersabda “barang siapa yang mengetahui hakikat dirinya, maka ia mengetahui tuhannya”.

Anehnya banyak manusia yang tidak menyadari nikmat besar ini, banyak manusia yang menyia-nyiakannya. Mereka menelantarkan jasmani dan ruhaninya. Mereka membiarkan jasmaninya lemah, ruhaninya pun dibiarkan tanpa diisi dengan ibadah. Bahkan ada sebagian orang yang merasa bosan menjadi manusia. Mereka berharap dan lebih memilih berprilaku  seperti makhluk lain yang lebih rendah derajatnya. Dan itu sudah banyak terjadi dijaman sekarang ini. “…. sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari nikmat Allah SWT”  (Q.S. Ibrahim : 34)

  • Nikmat Iman;

Setiap jumat kita selalu mendengar wasiat khatib dalam khutbahnya tentang keimanan dan ketaqwaan, bahkan wasiat keimanan dan ketaqwaan ini menjadi salah satu rukunnya khutbah sehingga tidak sah khutbah tanpa ada wasiat ini. Namun, tergerakkah hati kita akan wasiat tersebut? Atau itu semua hanya dianggap sebagai angin lalu saja? Perlu kita ketahui bahwa keimanan yang ada didada kita merupakan suatu karunia dan nikmat yang teramat besar. Dan sungguh sangat beuntung manusia yang diberi nikmat iman ini karena tidak semua manusia mendapatkannya.

Dengan adanya keimanan dihati inilah yang dapat menyelamatkan kita didunia dan diakhirat, membebaskan kita dari panasnya api neraka. “tidaklah kekal didalam neraka, barang siapa barang siapa dihatinya terdapat keimanan walaupun hanya sebesar biji sawi (sangat kecil)”. Keimanan seseorang itu tidaklah konstan/tetap,tetapi terkadang naik dan terkadang turun, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW “Iman itu dapat bertambah dan berkurang”. Oleh karena itu kita sangat perlu menjaganya, memupuknya dan meningkatkan kualitasnya melalui ilmu dan amal ibadah, sebaliknya janganlah kita menjerumuskan diri kedalam kemaksiatan dan dosa karena hal tersebut dapat menjadi tipis dan hilangnya iman dari dada kita. Padahal hilangnya iman adalah suatu kerugian yang amat besar (naudzubillahimindzalik).

  • Nikmat sebagai ummat Nabi Muhammad SAW;

Selain nikmat dijadikannya kita sebagai manusia dan nikmat iman, ada satu lagi nikmat Allah SWT yang sering terlupakan oleh kita, yaitu nikmat dijadikannya ummat Nabi Muhammad SAW.  Ummat Nabi Muhammad SAW adalah umat terbaik, ummat pilihan dan ini anugerah yang besar. Allah SWT berfirman : “kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia,menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada  Allah SWT……” (Q.S. Ali Imran : 110) kita tidak dapat membayangkan seandainya kita dijadikan  sebagai ummat Nabi Nuh AS. Atau ummat Nabi Musa AS. Atau ummat nabi – nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, tentu hidup kita sellalu dihantui rasa takut, selalu dicemooh dan dimusuhi oleh masyarakat. Dikejar – kejar oleh para penguasa dan akan dibunuhnya.

Sudah menjadi kewajiban bagi kita bersyukur kepada Allah SWT karena telah dijadikan ummat Nabi Muhammad SAW. Ummat terakhir namun akan dibangkitkan pertama kali dihari kiamat nanti, ummat yang rata – rata umurnya pendek namun amal ibadah dan kebaikannya senantiasa dilipat gandakan oleh Allah SWT, ummat yang dimuliakan dengan empat bulan mulia dan bulan Ramadhan yang mana amal ibadah dilipatgandakan hingga lebih dari 700 kali lipat banyaknya, serta keutamaan – keutamaan lainnya. Sebagai salah satu bukti rasa syukur atas nikmat ini, hendaklah kita :

  1. Mencintai Nabi Muhammad SAW diatas kecintaan kita kepada yang lainnya, Nabi SAW bersabda “tidak sempurna iman seseorang diantara kamu,sehingga Aku (Nabi Muhammad SAW) lebih dicintainya dari pada orang tua dan anaknya serta seluruh manusia” (HR. Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Annas ra).
  2. Mengikuti apa yang diperintahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya. Apa yang diperintah dan apa yang dilarang Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya sama dengan apa yang diperintah dan dilarang Allah SWT. Karena Nabi tidak berucap atas hawa nafsunya melainkan apa yang dicapkannya adalah wahyu dari Allah SWT.
  3. Memuliakan keluarga dan keturunannya. Salah satunya menjadikan beliau sebagai suri tauladan kita dengan berusaha meniru tingkah mulia beliau dan memperbanyak membaca shalawat Nabi supaya kelak kita mendapat syafaatnya dihari kiamat. Amiin..

Demikianlah sebagian kecil pemaparan dari nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita, penulis sengaja menyampaikan contoh nikmat diatas karena saat ini tidak sedikit manusia khususnya kaum muslimin yang dengan mudahnya melupakan nikmat Allah tersebut. Semoga kita dijadikan sebagai hamba yang senantiasa bersyukur, dengan menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan Allah SWT dan Rasul-Nya. Amiin…

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *