Dengan Bersyukur : Ubah Insecure menjadi Secure

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temuinya adanya seseorang  yang senantiasa merasa inferior (rendah diri). Bahkan  suatu saat  kita sendiri pernah mengalami hal itu, semisal: ketika kita bangkrut, kena PHK, nilai jelek, tidak bisa melanjutkan kuliah, ditinggal orang yang kita sayangi, gagal dalam kerjaan atau keluarga ‘broken home’, bosan dengan sekolah maupun kuliah online /daring, aktivitas yang hanya di rumah atau ‘stay at home”, maupun gagal saat usaha bisnis di tengah wabah covid 19 ini, ataupun kalah dalam suatu ‘kompetisi’ tertentu baik di dunia pendidikan, ekonomi, politik, sosial, budaya maupun seni dan olahraga.

Hal ini membawa ekses yang kurang baik bagi seseorang antara lain; berdampak selalu menyalahkan diri sendiri, menganggap diri ini lemah, minder, was- was, merasa kurang, selalu disalahkan orang, dinilai orang pemalas dan lemah, merasa martabat kita dijatuhkan saat kita tidak menang dalam ajang apapun, dan dinilai tidak cakap. Sehingga merasa diri kita tidak memiliki kapasitas dan tidak berharga untuk itu. Finalnya, kita minder terus menerus untuk ‘bertarung’ di medan laga kehidupan dan kalah sebelum bertanding.

Adanya perasaan tersebut mengakibatkan seseorang hanya memandang apapun itu ke atas saja yang dinilai lebih segalanya dari dirinya sehingga menjadikan terabrasi pikiran kita hingga lupa dengan  potensi yang dimilikinya. Juga tertutup sudah dari penglihatan mata dan batinnya bahwa masih banyak orang yang ada di bawahnya kita dalam banyak hal tapi tetap mampu melakukan sesuatu yang positif, yang kreatif, bermanfaat untuk diri dan sekitarnya walau dengan segala keterbatasan keadaan saat ini dengan menjaga jarak secara fisik. Namun  selalu berusaha tetap ikhtiyar ,berdoa dan tawakkal untuk meraih sukses dalam hidupnya tentu dengan ridho Ilahi.

Terkadang kita memiliki banyak kelebihan tetapi kita tidak sadari dan tidak tahu masih banyak orang lain justru memiliki kekurangan teramat besar. Seakan ada sebagian orang di sekitar kita yang tidak lagi paham dengan istilah Jawa ‘sawang-sinawang’. Yang dilihat hanya kekurangannya saja. Lupa akan karunia Ilahi atas kelebihan yang dimilikinya seolah kita kufur nikmat dan divisit rasa syukur. Naudzubillahi min dzalik…..

Perasaan seperti itu biasa diistilahkan dengan insecure. Ia hadir terkadang tanpa disadari oleh yang bersangkutan. Tapi ada pula yang paham sehingga mencoba mencari solusi untuk penyembuhannya. Nah yang bahaya bila tidak menyadari akan hal itu, sehingga perlu kita pahami, kita deteksi penyebabnya dan kita carikan solusiya.

 

PEMAHAMAN

Insecure adalah satu istilah dalam Ilmu Psikologi. Secara sederhana bisa didefiniskan sebagai perasan tidak aman atas diri sendiri yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Istilah umumnya perasaan tidak percaya diri (tidak PD).

Faktor penyebab insecure antara lain, pernah mengalami kegagalan meraih impiannya, traumatik (cerai, bangkrut, dll), krisis kepercayaan diri akibat dentuman lingkungan sosial, selalu ingin sempurna, pola asuh orang tua yang salah, harapan yang terlalu tinggi, dan sebagainya.

Adanya perasaan insecure pada diri seseorang, saat bersosialisasi di kampus, dunia kerja maupun komunitas lain lebih banyak menimbulkan hal kurang positif. Oleh karena itu perasaan insecure harus dibangun agar tidak menjadikan seseorang yang mengalaminya terpuruk dalam karier maupun terkubur cita-citanya. Selain itu sikap yang ditimbulkan oleh perasaan insecure terkadang juga membuat orang lain tidak nyaman. Bahkan kadang juga bisa merugikan atau setidaknya membuat orang lain terganggu.  Sehingga, insecure harus diubah menjadi secure (percaya diri/PD), optimis (mutafa’il) agar membuahkan sesuatu yang postif.

Untuk bisa mengubah insecure menjadi secure memang tidak mudah dan butuh motivasi diri dengan membuka dan mengetuk mata hati atau bathiniyyah kita sebagai hamba yang seyogyanya pohonkan segala kegundahan, ketidaknyamanan, keterpurukan dalam hidup hanya padaNya sebagai Sang Maha Pengatur dengan penuh Rahman RahiimNya.

Para ahli banyak memunculkan teorinya. Terlalu panjang bila kita membahas itu. Cukuplah di sini kita memulai dengan mengenal dan memahami diri sendiri. ”Memahami diri sendiri adalah awal dari semua kebijaksanaan,” kata Aristoteles. Bahkan Rosul pun menyampaikan bahwa, siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal TuhanNya.  Apa yang perlu dipahami? Yakni, bahwa diri kita adalah sinergi antara fisik dan jiwa, antara jasmani dan rohani, antara dhohiron wa bathinan.

Memahami atau menyadari bahwa kita adalah sinergi fisik dan jiwa yang takbisa dipisahkan, bagaikan langit dan bumi, timur dan barat, laki laki dan perempuan, kutub positif dan negatif yang semuanya akan membawa manfaat yang saling beriringan, menurut Asti Musman (2018) akan mempermudah kita untuk mengolah kemampuan yang sangat luar biasa yang kita miliki. Jika kita hanya membatasi secara fisik, maka akan mempersempit ruang gerak dan daya kreasi. Kita juga telah memberikan batasan-batasan bagi kemampuan kita yang sebenarnya. Padahal alam semesta ini tidak terukur kemampuannya.

Dengan mengenal diri seperti ini kita akan menyadari bahwa kita diciptakan dengan maksud tertentu. Contoh orang sukses tapi lemah atau ada kekurangan fisiknya, misal penyanyi di stasiun TV yang buta tetap semangat mengembangkan potensinya, seorang dengan kaki tidak sempurna ia melukis dan berkreasi juga untuk terus berjuang demi kelangsungan hidupnya, mahasiswa dan murid dengan keterbasan penglihatan pun tetap berjuang ingin mengenyam pendidikan demi masa depannya, dll.

Nah, dari contoh di atas membuktikan bahwa apapun kekurangan yang kita miliki sebenarnya apabila kita lihat aspek positifnya justru bisa menjadi pelecut untuk meraih kesuksesan. Dengan menyadari dan memahami kekurangannya, justru menjadikan tantangan untuk terus berjuang meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Itu artinya kita mengenali dan  mencintai diri kita sendiri atau  self love.

Mencintai diri sendiri berarti menerima diri sepenuhnya, apa adanya, lengkap dengan segala keunggulan maupun kelemahan kita sebagai anugerah Ilahi. Dengan demikian, ketika menyadari bahwa kita lemah, bukan berarti mengharapkan kita lemah. Namun Tuhan ingin menguji seberapa kuat dan ikhlas kita di kala Tuhan menyentuh kita dengan ujian sebagai wujud kerinduan Ilahi pada diri hambaNya untuk lebih dekat dan Demikian disampaikan Husna Widyani (2019) dalam bukunya Berpikir Positif.

Berangkat dari pernyataan di atas berarti dengan memahami diri sendiri, dengan mencintai diri sendiri, kita akan mengetahui kelebihan dan kekurangan, kita akan bisa meliha potensi dan keunggulan yang kita miliki serta paham hal positif yang dapat diimplementasikan, yang dapat ditonjolkan.

Dalam ilmu filsafat, menurut Dedy Susanto (2012), kesadaran pada kelemahan diri ternyata merupakan langkah awal untuk memperoleh kemuliaan dalam berpikir maupun bertindak. Sebaliknya, bahaya terbesar dalam jiwa justru saat kita tidak menyadari bahwa kita lemah.

Ada penjelasan cukup menarik dari Dr. Ibrohim Alfiky dalam bukunya Quwwat at-Tafkir (Terapi Berpikir Positif), yakni: “Setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. Satu-satunya yang dibutuhkan sejumlah pikiran ini adalah pengarahan. Jika arah yang ditentukan bersifat negatif maka sekitar 60.000 pikiran akan keluar dari memori ke arah negatif.”

Itu artinya, kita jangan sampai mengarahkan pikiran pada hal-hal yang negatif, tetapi harus optimis berpikir hal-hal yang positif. Dengan demikian, buah yang akan dipetik adalah hasil positif pula dalam diri kita.  Sama halnya dengan penjelasan di atas,  bahwa atas kelemahan yang kita miliki bukan berarti kita mengharapkan untuk menjadi lemah. Kelemahan itu harus jadi pelecut dan tantangan untuk bangkit dan melahirkan hal yang positif. Nah, di situlah langkah awal untuk mengubah insecure menjadi secure. Sebagaimana yang tersirat dalam alquran Q.S: Al Baqarah ayat 216 yang berarti;

“ ….boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqoroh: 216).

Itu pulalah yang dimaksud dengan bersyukur atas anugerah apapun yang kita miliki dan kita gunakan seoptimal mungkin dengan pikiran yang positif dan menyandarkan segala sesuatu hanya pada Ilahi Robbi. Barangsiapa bersyukur atas anugerah Alloh, niscaya akan ditambah nikmatnya! Sebaliknya bila kita enggan bersyukur, kita akan tertutup awan yang gelap atas potensi yang kita miliki, kita akan menjadi orang yang berkutat pada kelemahan diri, orang yang tidak pernah maju, bak bunuh diri perlahan hingga akhirnya mati tanpa menorehkan sejarah positif dalam kehidupannya.

Nampak luar kita memiliki fisik yang utuh, lengkap dan sempurna namun batin kita sakit, rapuh dan cacat hati serta psikis  kita. Apa gunanya jika memiliki ilmu setinggi langit, kita tak memiliki iman. Dan apa gunanya pula kita memiliki ilmu dan iman namun kita arogan tanpa memiliki akhlak untuk kita amalkan. Jadi pentinglah hubungan holistik  antara ilmu, iman, dan amal, karena manusia telah diberikan akal dan pikiran untuk memahami, membaca, dan mengerti hamparan ayatul kauniyah yang Tuhan geraikan di muka bumi ini sebagaimana yang telah tergurat dalam Alquran surah Al alaq ayat : 1 s.d. 5 : iqro’ ……! yang berarti bacalah !, membaca bi lisan juga membaca apa yang ada di sekitar alam semesta ini beserta isinya. Agar kita mau berpikir dan bersyukur atas penciptaanNya.

Jika kita kufur nikmat dan kita tidak pandai mensyukuri atas anugrah hidup, umur yang panjang, nafas yang gratis tanpa harus membeli bertahun-tahun mendapatkan oxigen dari Sang Kholiq serta nikmat yang lainnya yang tak terhitung jumlahnya (un limited) dan masih banyak lagi apabila kita mau mengukur dan menimbang antara nikmat dan ujian musibah di dunia ini, pastilah akan lebih banyak nikmat yang Alloh beri. Nikmat mana lagi yang hendak kau dustakan.

Mari kita perbanyak istighfar dan senantiasa bersyukur atas kesempatan yang Alloh berikan pada kita untuk bisa beribadah solat, menjalankan puasa wajib romadlon maupun sunah, melapangkan Rizqi untuk bersedekah semampu kita, berbagi dengan sesama, membantu yang kurang mampu, saling menasehati. Selain itu bisa juga kita wujudkan dengan beribadah yang ikhlas, khusyuk, bersyukur atas pemberianNya serta berusaha menjadi insan yang baik di mata Ilahi bukan hanya di mata manusiawi.. Astaghfirullahal ‘adziim…….

TERAPI RELAKSASI

Solusi lain untuk mengatasi perasaan insecure (ketidaknyamanan), di antaranya melakukan terapi  relaksasi, memfokuskan semua pikiran dan berkontemplasi dengan diri menghubungkan dengan hati kita, kita buka mata batin kita seraya pohonkan segalanya pada Ilahi Sang Maha Suci.

Caranya adalah: (seluruh peserta silahkan praktekkan) :

  1. Pahami dan pikirkan perasaan insecure yang menerpa kita itu.
  2. Pikirkan lebih dalam lagi perasaan kita akibat terpaan insecure itu.
  3. Sembari mata terpejam, tarik nafas dalam-dalam dari hidung kemudian, keluarkan perlahan dari mulut sebanyak tiga kali tarikan nafas.
  4. Selanjutnya konsetrasilah pada hal-hal positif pada diri kita, bayangkan

bahwa Alloh Tuhan semesta alam selalu menjaga kita, menemani kita

dan tidak ada yang mampu menemani kita di saat suka dan duka, berjaya

dan terpuruk sekalipun. Hanyalah Dzat Sang Maha Rahman Rahiim lah yang mampu

menemani kita.

  1. Buanglah jauh-jauh dan hempaskan dari pikiran kita keterpurukan masa lalu, traumatik, ketidaknyaman saat ini dengan seseorang atau posisi dan kondisi kita. Lebih dalam lagi fokus dan hempaskan sekuat-kuatkan dan hilangkan dari pikiran kita, orang yang selalu menilai kita salah, mencaci maki orang lain dan merasa dirinya paling benar, buanglah rasa dendam, maafkan kesalahan orang-orang yang pernah menyakiti kita agar tidak menjadikan beban bagimu, serta buanglah permasalahan atau hal-hal yang menggerus bathin kita, melemahkan fisik kita biarkan mereka. Anggap mereka orang arogan yang tak pantas menjadi hamba beriman dan tidak pandai bersyukur. Karena hanya manusia bertaqwalah yang baik di mata Ilahi, bukan yang berkedudukan tinggi tapi tinggi hati dan tidak manusiawi.
  2. Tetap pejamkan mata dan rasakan lebih dalam lagi tarik nafas dalam-dalam hembuskan aura positif dalam hati kita, tubuh kita, pikiran kita dan buka dan ketuk mata batinmu, seraya berkata: Tuhan… ampuni hamba yang telah kufur nikmat, yang kurang bersyukur selama ini dan hanya menilai orang lain selalu di atasku dan materi semata yang nilai dan kukejar serta hanya kelemahan dan kejelekankulah yang selalu tampak. Namun aku tidak sadar bahwa masih Engkau berikan kenikmatan hidup di dunia ini dengan keluarga yang baik, orangtua yang utuh dan menyayangiku meski dalam keterbatasan keadaan, mereka tetap semangat memberiku motivasi hingga tua renta. Ya Alloh Yang Maha Rahman ketika hamba belum bisa berbakti pada orang tua hamba jangan ambil dulu nyawanya dan harus menghadap ke pangkuanMu Sang Pemilik hakikinya. Berikanlah kesempatan kami untuk membahagiakannya dengan amanah jalan tholabul ilmi ini dan ujian hidup ini. Semoga hamba mampu memberikan kemanfaatan di sekitar kami. Ya Robb, ampuni kami jika semua nikmat dariMu kami lupa dan kami lena. Sejatinya Engkau telah memberikan kami pendamping, saudara, dan teman, guru, dosen, asatid, pemimpin, dan tim medis yang selalu membantu dan menyayangi kami.

Ya Robb, Engkau pun telah berikan kesempatan untuk melihat indahnya warna-warni ciptaanMu yang orang lain belum tentu bisa melihatnya dengan mata buta, akan segala yang terhampar di alam semesta ini.

  1. Selanjutnya, tiupkan angin segar seolah-olah berada di tepi pantai yang sejuk, penuh pepohonan nan indah, gunung-gunung dan bukit di kejauhan, angin yang mendesir membawa pesan optimis untuk kita. Terus dan terus rasakan, masukkan perasaan nyaman dirimu dan kumpulkan semangat, kumpulkan serpihan kekuatan dan kembali bangkit saat ini untuk berkarya, untuk semangat kembali, dan tidak selalu mengeluh serta putus asa dan tak lagi pantang menyerah. Berikan pemahaman pada diri kita pikiran positif, bahwa di balik kelemahan pasti Alloh berikan kelebihan dan bayangkan sinar terang masa depan nan cerah siap menantimu di balik perjuangan hidupmu dan masa depan penuh percaya diri, penuh rasa syukur atas nikmat Ilahi Robbi…. Tarik nafas lagi perlahan..hembuskan dengan tenang.
  2. Bayangkan…..lebih dalam dan terus bayangkan bahwa Anda bisa…pasti bisa berhasil dan keluar dari ketidaknyaman dan keterpurukan. Di ujung sana keluarga kita sudah menanti dengan senyum dan bahagia…Dekati mereka, tersenyumlah pada mereka orang yang selalu mendukungmu dalam suka maupun duka di manapun dan kapanpun. Buka kedua tanganmu ke depan. Kemudian peluk mereka dengan bahagia bahwa kamu ada untuk mereka dan kamu ada tidak membuat mereka kawatir…Seraya ucapkanlah Alhamdulillahi robbil ‘alamiin……..
  3. Buka mata pelan-pelan……..tersenyum dan bersyukurlah dan ucapkanlah sekali lagi hamdallah !

KONKLUSI

Berangkat dari pemaparan di atas lebih lanjut dapat kita simpulkan bahwa perasaan insecure termasuk kategori yang merugikan bagi diri sendiri maupun orang  lain yang berada di sekitar kita. Ia bisa bersumber dari faktor internal ( dalam diri kita dan perasaan kita) maupun faktor ekternal ( opini pubik/ orang lain, masa lalu, traumatik, lingkungan, dsb.). Kita harus mengetahui dan memahami akar permasalahannya.

            Insecure agar berubah menjadi sesuatu yang positif, maka kita haruslah mengenali gejalanya dan kemudian kita balik menjadi secure. Kuncinya dengan mengenal dan memahami diri, berpikir positif, mencintai diri (self love) dengan bersyukur anywhere, anytime and everthing.

Dengan langkah-langkah di atas, niscaya insecure akan berubah menjadi secure dan akan melahirkan sikap positif, kreatif dan suksesnya kehidupan seseorang secara pribadi maupun sosial. Perubahan insecure menjadi secure bisa diimplementasikan pada seluruh aspek kehidupan, dengan catatan senantiasa mengedepankan pada sikap khusnudzon terhadap Ilahi dan berpikir positif atas semua anugerah yang diterimanya serta menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Alloh. Yakni dengan ikhtiyar diiringi doa dan tawakkal. Yang kemudian memasrahkan semua pada wilayah Ilahi Robbi untuk menata kita seraya berserah diri dengan segala kerendahan hati bukanlah rendah diri. Sehingga kita mampu menyeimbangkan fisik dengan psikis, lahir dengan batin dan ujian dengan kita sikapi sebagai nikmat.

Di balik gelap pasti ada terang dan di balik kesulitan pastilah ada kemudahan. Itulah yang harus kita internalisasikan dalam diri dan hanya mengharap ridho Ilahi semata Sang Maha Suci dan Absolut. Semoga kita senantiasa menjadi insan yang selalu bersyukur atas qadha qadarNya dan senantiasa dilimpahkan rahmatNya. Amin

Terima kasih atas segala perhatian dan kontribusinya. Semoga kita mampu memberikan manfaat untuk negeri ini dengan bahu membahu bersatu dalam masyarakat dan lingkungan yang multikultural mendidik dari diri kita (ibdak bi nafsi) mengukir segala kebaikan dengan ridho Ilahi  untuk membangun negri ini dan pohonkan doa, semoga kita  diberikan kekuatan dan kesempatan bersama-sama menjadikan negeri kita Indonesia ‘baldatun thayyibatun warobbun ghofur’ serta memberikan kemaslahatan dan pencerahan bagi umat di seluruh alam untuk melihat sinar cakrawala dunia bi iznillah. Maju dengan prestasi bukan ketinggian hati berbalut iri hati.. bi jiddin wa bi ihlasan .Aamiin…

Man Jadda wajada.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *