Fiqih: Perilaku Yang Harus DihindarI Dalam Shalat Jumat

Banyak orang yang tidak mendapatkan pahala Shalat Jumat dan shalat jumatnya sia-sia belaka, serta tidak jarang orang Shalat Jumatnya hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Untuk itu, pada tulisan ini dikemukakan tiga perilaku yang seharusnya dihindari oleh setia jamaah Shalat Jumat yaitu datang terlambat, tidur dengan tidak merapatkan pantat, berbicara pada waktu khotib berkhutbah

  1. Datang Terlambat

Adapun orang yang jum’atannya sekedar menggugurkan kewajiban adalah orang yang datang terlambat. Ia datang pada waktu imam sudah naik mimbar untuk berkhutbah. Sebagaimana disebutkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, jika imam sudah masuk masjid maka malaikat pencatat amal melipat buku catatan amalnya dan bergegas mengikuti aktivitas jum’atan.

Jadi orang yang datang sesudah imam masuk masjid tidak akan mendapat pahala jum’atan dan tidak pula mendapatkan ampunan terhadap dosa mereka. Akan tetapi kewajibannya melakukan Shalat jum’at sudah gugur dan ia tidak berdosa.

Hal yang demikian sangat disayangkan karena ternyata orang yang terlambat datang ini jumlahnya sangat banyak dan cenderung bertambah terus , masjid-masjid bisanya baru penuh ketika imam sedang berkhutbah.

  1. Tidur dengan Tidak Merapatkan Pantat

Orang yang shalat Jum’atnya tidak sah antara lain adalah orang yang tidak suci dari hadats, orang yang demikian ternyata jumlahnya cukup banyak. Memang, semua orang yang berangkat ke masjid untuk melakukan Shalat Jum’at  tentu telah menyucikan diri dari hadats dan najis yaitu dengan mandi dan berwudhu terlebih dahulu.

Namun pada saat khutbah dibacakan tidak sedikit orang yang tertidur, dengan tertidur tersebut dikhawatirkan batal wudhunya, kecuali orang-orang yang merapatkan pantatnya pada tempat duduk walaupun tertidur, wudhunya tidak batal.

Pada saat mendengarkan khutbah banyak orang yang duduknya tidak merapatkan pantat, yaitu dengan duduk jigang atau selonjor atau yang lainnya. Orang yang duduknya demikian batallah wudhunya dan sebelum shalat ia harus wudhu lagi, kalau tidak wudhu maka Shalat jum’atnya tidak sah.

Untuk menghindari hal tersebut marilah kita selalu duduk bersila, karena dengan duduk yang demikian, pantat kita akan selalu rapat, kalaupun sampai tertidur, maka tidak sampai membatalkan wudhu.

  1. Berbicara Pada Waktu Khotib Berkhutbah

Orang yang shalat jum’atnya sia-sia belaka antara lain adalah orang yang berbicara atau melakukan aktivitas lain ketika khutbah dibacakan. Akhir-akhir ini tidak sedikit orang yang tampaknya tidak mengerti bahwa ia harus mendengarkan khutbah secara penuh.

Ia tidak mengerti peringatan yang disampaikan bilal setiap sebelum khutbah dibacakan “ Idza kulta lishaahibika yaumal jum’ati anshit wal imamu yakhthubu faqad laghaut “ ( Jika kamu mengatakan “ diamlah “ kepada temanmu pada saat imam membaca khutbah maka jum’atanmu sia-sia ). Peringatan yang disampaikan bilal tersebut adalah hadits Nabi atau sabda Rasulullah SAW, jadi, bukan sekedar basa basi melainkan harus ditaati.

Oleh karena itu, marilah kita hindari pembicaraan pada saat imam berkhutbah, walaupun pembicaraan itu sedikit sekali, kalau ada teman atau orang lain yang mengajak berbicara atau bertanya janganlah dituruti atau dijawab. Karena orang yang bertanya dan yang menjawab sama-sama batal pahala jum’atannya.

Demikian kalau ada anak-anak yang ramai dan membuat kegaduhan jangan sampai kita mengingatkan atau melarang mereka dengan kata-kata, membaca Al Quran ( mengaji ) saat khutbah disampaikan juga tidak diperbolehkan, apalagi membaca buletin dan lain sebagainya supaya kita dapat mendengarkan khutbah sepenuhnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *