ISTIDRAJ: Sesuatu yang Memperdaya dan Kemurkaan dari Allah SWT

Kata – kata mutiara tersebut merupakan salah satu kutipan dari kitab Al – Hikam karya syaikh Athoillah. Telah kita ketahui bersama, bahwa setiap orang pasti senang jika diberi nikmat, terpenuhi kebutuhan hidupnya dengan berlimpah, kelancaran dalam menjalani kehidupannya, kesehatan yang terus prima sepanjang hidupnya, dan lain-lain. Namun kebahagiaan dan kesenangan cenderung membuat orang menjadi lupa diri, lalai dari kewajiban dan ketaatan kepada Tuhannya.

Arti Nikmat

Kita seharusnya memahami bahwasanya tidak semua nikmat dan kebahagiaan itu berasal dari Rahmat dan kasih sayang-Nya, ada nikmat dari Tuhan yang justru merupakan istidraj, Kemurkaan Tuhan dikarenakan kedurhakaan dan tercelanya akhlak/adab kita dalam kehidupan sehari – hari. Allah SWT berfirman, “akan kami perdayai mereka dari tempat yang tidak mereka ketahui”.

Sebagian orang yang tidak mengerti mungkin akan mengatakan: mana mungkin nikmat itu adalah adzab? Kalau memang akhlak kita tercela dan masih sering mendurhakai-Nya. Mengapa kita masih diberi kenikmatan oleh-Nya? Inilah ketidakpahaman akan skenario dan rencana – rencana Tuhan yang tersembunyi. Sebagai pemermudah pemahaman, dapat kita misalkan ada seorang anak yang karena sudah terlalu sering durhaka, tidak dapat di atur dan dinasihati lagi oleh orangtuanya, sehingga sang orangtua membiarkannya berbuat apa saja, di berinya semua yang diminta, di turuti semua keinginannya. Pembiaran dan pemberian dari orang tua tersebut tentunya bukan karena sayangnya orangtua, melainkan karena orangtua kecewa terhadap anaknya, dan bentuk kekecewaannya di wujudkan dengan membebaskan dan menuruti semua keinginan anaknya tersebut.

Oleh karena itu, kita patut senantiasa introspeksi diri. Segala kenikmatan yang kita peroleh, apakah sebagai anugerah ? ataukah ujian ? atau jangan-jangan malah istidraj dari Allah ?

  1. Mawas diri dalam kehidupan.

Salah satu ciri orang yang beriman adalah selalu mawas diri dan merasa khawatir akan nikmat – nikmat yang diperolehnya, apakah nikmat itu berasal dari curahan kasih sayang Allah SWT sebagai anugerah atas ketaatannya, ataukah berasal dari kemurkaan Allah SWT dikarenakan kedurhakaannya selama ini.

Salah satu tanda istidraj adalah melimpahnya nikmat, rizki, kesehatan dan kebahagiaan yang terus menerus di peroleh, padahal masih selalu berbuat maksiat dan berakhlak yang tercela. Oleh karena itu, kita seharusnya mawas diri, meneliti dan menghitung sendiri setiap amal dan tingkah laku yang kita kerjakan, sehingga kita tidak terjerumus pada kemurkaan Allah SWT, sedangkan kita tidak menyadarinya. Khalifah Umar Bin Khattab ra. Pernah berkata : “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab oleh Allah SWT diakhirat nanti”.

  1. Macam – macam bentuk kemurkaan Allah SWT.

Dalam syarah kitab Al-Hikam disebutkan bahwa, kemurkaan Allah SWT itu bermacam – macam bentuknya, diantaranya adalah:

»  Kemurkaan  yang datangnya seketika (al-‘Uqubah al-Mu’ajillah), ditimpakan kepada seorang yang hamba yang telah bermaksiat/melanggar perintah Tuhan.

»  Kemurkaan yang datangnya diakhirkan (al-‘Uqubah al-Muajillah), baik diakhir kehidupannya maupun ditimpakan kelak diakhirat.

»  Kemurkaan yang jelas (al-‘Uqubah al-Jaliyyah), adzab yang berupa bencana, cobaan, wabah penyakit dan lain – lain bagi orang – orang yang suka melakukan dosa, kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah SWT.

»  Kemurkaan yang samar  (al-‘Uqubah al-Khofiyyah), berupa hijab yang menutupi antara seorang hamba dan Tuhannya. Sehingga ia tidak dapat merasakn nikmatnya ibadah, tidak mendapatkan ketenangan hati, ‘Uqubah  ini diperuntukkan bagi para hamba yang akhlakny tercela, rendah adabnya, buruk tingkah lakunya, terutama adab terhadap Allah SWT.

Dari keempat jenis tersebut, jenis kemurkaan yang paling berbahaya adalah kemurkaan yang samar dan datangnya diakhirkan, (al-‘Uqubah al-Khofiyyah al-Muajillah). Orang yang mendapatkan kemurkaan jenis ini sulit menyadarinya, bahkan mereka mengganggapnya sebagai nikmat dan anugerah Tuhan, sebab kemurkaan ini terselubung dalam kenikmatan, kesehatan, dan kesuksesan yang diperoleh orang tersebut. Dengan ilmu dan muroqqobah kita dapat mendeteksi. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, surat Ali-Imran ayat 196-197, “janganlah kamu sekali – sekali terperdaya oleh kebebasan orang – orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah jahannam, dan jahannam adalah tempat yang seburuk – buruknya”.

  1. Efek dari Istidraj.

Apabila sesuatu yang kita dapatkan sebenarnya merupakan istidraj atau penglulu dari Allah SWT atas ketidakpatuhan dan tercelanya adab kita selama ini, hal itu akan membawa efek negatif pada kita, yaitu:

  • Menjadikan kita semakin susah untuk menjalankan ketaatan kepada-Nya, walaupun kita berusaha dengan sungguh – sungguh.
  • Semakin terjerumusnya pada kemaksiatan, walaupun kita tidak menginginkannya.
  • Tertutupnya pintu perlindungan Allah SWT kepada kita.

Sebaliknya, apabila kita selalu taat dan menjaga akhlak terhadap Allah SWT, maka kemungkinan besar nikmat dan karuni yang kita peroleh adalah bersumber dari kasih sayang Allah SWT, yang akan menjadikan kita semakin bertaqwa, semakin  dekat dengan pertolongan Allah SWT. Pertolongan (taufik) tersebut akan:

  • Mengarahkan tingkah laku kita menjadi semakin baik, tanpa harus bersusah payah.
  • Menjadikan kita lebih mudah untuk menjauhi dan meninggaalkan kemaksiatan, serta
  • Menjadikan kita memperoleh perlindungan – Nya.

Dengan patokan ilmu dan baiknya budi pekerti inilah, setidaknya kita dapat menilai asal – muasal dari setiap pemberian dan anugrah Allah SWT yang diberikannya kepada kita.  Semoga semua anugrah dan nikmat yang kita peroleh adalah dari kasih sayang dan ridlo-Nya, bukan dari kemurkaan-Nya. Nikmat dan anugerah yang menjadikan kita semakin dekat dengan Allah SWT, dan mengantarkan kita menggapai ridha-Nya. Aamiin.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *