RASULULLAH : KEMULIAN AKHLAK PEMBAWA RISALAH KEBENARAN

Rasulullah SAW dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah hari senin pagi, tanggal 12 Rabiul awwal permulaan tahun dari peristiwa tahun gajah atau bertepatan dengan 20 April 571 Masehi.

KELAHIRAN SANG PEMBAWA KEBENARAN

Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa ibu rasulullah SAW berkata , “ setelah bayiku keluar aku melihat ada cahaya yang keluar dari kemaluanku, menyinari istana – istana di Syam.

Diriwyatkan pula bahwa ada beberapa bukit pendukung kerasulan, bertepatan dengan saat kelahiran beliau yaitu runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra, dan padamnya api yang bisa disembah orang – orang majusi serta runtuhnya beberpa gereja di sekitar Buhairah setelah gereja – gereja itu ambles ke tanah.

Setelah Aminah melahirkan, dia mengirim utusan ke tempat Abdul Muthalib untuk menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran cucunya, maka Abdul Muthalib datang dengan perasaan suka cita.

Lalu membawa beliau ke dalam Ka’bah, seraya berdoa kepada Allah dan bersyukur kepadaNya, dia memilihkan nama Muhammad bagi beliau, nama itu belum pernah dikenal di kalangan Arab.

Beliau dikhitan pada hari ketujuh, seperti yang biasa dilakukan orang – orang Arab, wanita pertama yang menyusui beliau setelah ibunya adalah Tsuwaibah, hamba sahaya Abu Lahab yang kebetulan sedang menyusui anaknya yang bernama Masruh.

Yang sebelum itu wanita itu juga menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib, setelah itu dia menyusui Abu Salamah bin Abdul Asad Al – Makhzumy.

Sebagai manusia pilihan, sikap keseharian Nabi Muhammad SAW lain daripada yang lain, beliau mempunyai tutur kata yang fasih, pengucapan yang jelas, ucapannya selalu diucapkan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tidak sulit diketahui.

TUTUR KATA RASULULLAH SAW

Lancar, jernih kata – katanya, jelas maknanya, sedikit ditahan, disisipi kata – kata yang luas maknanya, mengkhususkan pada penekanan – penekanan hukum, mengetahui logat – logat bahasa arab.

Berbicara dengan setiap kabilah arab menurut logat masing – masing, berdialog dengan mereka menurut bahasa masing – masing, ada kekuatan pola bahasa Badui yang cerdas berhimpun pada dirinya.

Begitu pula kejernihan dan kejelasan cara bicara orang yang sudah beradab, semua itu karena kelebihan beliau sebagai seorang Rasulullah. Marilah kita tingkatkan kulaitas iman dan taqwa kita serta kualitas akhlaq pada diri kita.

Mudah mudahan kelak kita termasuk orang – orang yang mendapat syafaat di hari akhir kelak.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *